Watukosek, 17 April 2026
Dalam lembaran sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, peran aparat penegak hukum sering kali terlupakan di tengah kilap heroisme para tentara. Namun, sosok Komjen Pol (Purn) Dr. H. Moehammad Jasin berdiri sebagai pengecualian yang tak terbantahkan. Dikenal sebagai "Bapak Brimob Polri", M. Jasin adalah tokoh sentral yang mengubah wajah kepolisian kolonial menjadi alat negara yang setia pada Republik, serta menjadi pelopor berdirinya unit pasukan elit yang kini kita kenal sebagai Korps Brigade Mobile (Brimob).
Dari Tokubetsu Keisatsutai ke Garda Depan Kemerdekaan
Moehammad Jasin lahir di Baubau, Sulawesi Tenggara, pada 9 Juni 1920. Karir kepolisiannya mulai menonjol pada masa pendudukan Jepang. Saat itu, Jepang membentuk pasukan polisi bersenjata yang disebut Tokubetsu Keisatsutai (Pasukan Polisi Istimewa). Jasin muda yang cerdas dan berjiwa pemimpin berhasil menduduki posisi sebagai Komandan Polisi Istimewa di Surabaya.
Meskipun dilatih dan dipersenjatai oleh Jepang, jiwa nasionalisme Jasin dan pasukannya tidak pernah luntur. Mereka diam-diam menjalin kontak dengan para pejuang pergerakan bawah tanah.
Proklamasi Polisi Republik Indonesia (21 Agustus 1945)
Hanya empat hari setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, M. Jasin mengambil langkah yang sangat berani dan bersejarah. Pada tanggal 21 Agustus 1945, di Markas Polisi Istimewa Surabaya (sekarang SMA Katolik St. Louis 1), Jasin membacakan sebuah proklamasi yang mengikat kesetiaan seluruh polisi kepada Republik Indonesia.
"Oentoek bersatoe dengan rajak dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menyatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia."
Tindakan ini sangat krusial karena:
Melucuti Kekuatan Jepang: Pasukan Jasin menolak tunduk pada Sekutu dan secara aktif melucuti senjata tentara Jepang di Surabaya.
Mempersenjatai Pejuang: Senjata-senjata hasil rampasan dari gudang senjata Jepang (arsenal) dibagikan kepada laskar-laskar pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang menjadi modal utama dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan.
Palagan Surabaya dan Peran Krusial Pasukan M. Jasin
Ketika pasukan Sekutu (Inggris) mendarat di Surabaya dan ketegangan memuncak hingga meletusnya Pertempuran 10 November 1945, pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. Jasin berada di garis depan.
Pasukan ini adalah salah satu dari sedikit kesatuan tempur di pihak Indonesia yang memiliki pelatihan militer terstruktur dan persenjataan memadai (termasuk panser hasil rampasan). Mereka bertempur bahu-membahu bersama laskar rakyat dan Bung Tomo, menahan gempuran tentara Inggris yang merupakan pemenang Perang Dunia II. Kepemimpinan Jasin di lapangan berhasil memberikan perlawanan sengit yang membuat pihak Sekutu kewalahan.
Lahirnya Brigade Mobile (Brimob)
Seiring berjalannya revolusi fisik, pemerintah menyadari perlunya sebuah pasukan polisi khusus yang memiliki kemampuan tempur dan mobilitas tinggi untuk menghadapi berbagai ancaman, baik dari Belanda yang ingin kembali berkuasa maupun dari pemberontakan bersenjata di dalam negeri.
Pada 14 November 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir secara resmi membentuk Mobile Brigade (Mobrig). Pasukan ini dilebur dari satuan-satuan Polisi Istimewa di berbagai daerah, dan M. Jasin memainkan peran utama dalam konsolidasi, pelatihan, dan pembentukan doktrin tempur pasukan baru ini.
Beberapa catatan penting mengenai sejarah Brimob:
Penggantian Nama: Pada tanggal 14 November 1961, Presiden Soekarno mengubah nama Mobile Brigade (Mobrig) menjadi Brigade Mobile (Brimob) dan menganugerahkan pataka "Nugraha Sakanti Yana Utama" sebagai penghargaan atas kesetiaan dan jasa pasukan ini.
Penumpasan Pemberontakan: Di bawah bimbingan komandan seperti M. Jasin, Mobrig/Brimob selalu hadir dalam operasi-operasi vital negara, termasuk penumpasan pemberontakan PKI Madiun (1948), DI/TII, PRRI/Permesta, hingga operasi Dwikora dan Trikora.
Warisan Pahlawan Nasional
Komjen Pol (Purn) M. Jasin wafat pada 3 Mei 2012 di usia 91 tahun. Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam mempertahankan kemerdekaan, memproklamasikan kesetiaan kepolisian, dan membidani lahirnya pasukan elit Brimob, Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada M. Jasin pada tanggal 5 November 2015.
Sejarah mencatat bahwa Moehammad Jasin bukan sekadar seorang polisi biasa. Ia adalah seorang patriot sejati yang menggunakan seragam dan senjatanya bukan untuk menindas, melainkan untuk memastikan bahwa sang Saka Merah Putih tetap berkibar di bumi pertiwi. Warisannya kini terus hidup dalam setiap detak jantung prajurit Korps Brigade Mobile di seluruh Indonesia.


Komentar
Posting Komentar