Eps 7 - Mari Berkunjung dan Mengenal Sejarah Candi Belahan atau Mata Air Sumbertete

Mengungkap Jejak Sejarah Candi Belahan: Misteri dan Keindahan Mata Air Sumber Tetek

​Tersembunyi di lereng timur Gunung Penanggungan, terdapat sebuah peninggalan bersejarah yang menyimpan nilai seni, spiritual, dan misteri dari abad ke-11. Tempat ini dikenal dengan nama Candi Belahan atau yang lebih populer di kalangan masyarakat setempat sebagai Mata Air Sumber Tetek.

​Situs bersejarah ini bukan sekadar candi biasa, melainkan sebuah petirtaan (pemandian suci) kuno yang erat kaitannya dengan sejarah panjang Nusantara, khususnya pada masa kekuasaan Raja Airlangga.

📍 Lokasi Situs

​Secara administratif, Candi Belahan terletak di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Meski secara resmi berada di Pasuruan, letaknya yang menempel di kaki Gunung Penanggungan membuatnya secara historis dan geografis berdekatan dengan kawasan cagar budaya Trowulan dan situs-situs bersejarah di Mojokerto (seperti Petirtaan Jolotundo).

​Perjalanan menuju situs ini menawarkan nuansa pedesaan yang asri, meskipun pengunjung harus melewati jalan yang agak menanjak dan berliku mengingat posisinya yang berada di lereng gunung.

​📜 Sejarah dan Pembangunan

​Berdasarkan peninggalan prasasti dan catatan sejarah, Candi Belahan diperkirakan dibangun pada tahun 1009 Masehi, bertepatan dengan masa keemasan Kerajaan Kahuripan.

​Karya Raja Airlangga: Candi ini dibangun oleh Raja Airlangga, penguasa Kahuripan yang merupakan putra dari Raja Udayana (dari Bali) dan Putri Mahendradatta (dari Jawa). Garis keturunan inilah yang membuat Candi Belahan hingga kini masih memiliki ikatan batin yang kuat dengan masyarakat Hindu di Bali, sehingga banyak peziarah dari Pulau Dewata yang rutin berkunjung ke sana.

​Fungsi Kerajaan: Pada masa lampau, Candi Belahan berfungsi sebagai kolam petirtaan yang dikeramatkan, digunakan sebagai tempat pemandian suci bagi kalangan internal keluarga kerajaan. Beberapa ahli sejarah juga meyakini bahwa petirtaan ini merupakan tempat pendharmaan bagi Raja Airlangga setelah beliau mangkat.

​🏛️ Arsitektur dan Keunikan "Sumber Tetek"

​Daya tarik utama Candi Belahan terletak pada arsitektur kolam berukuran sekitar 4x10 meter dengan dinding batu bata merah berdenah huruf 'L', berpadu dengan arca-arca berbahan batu andesit yang bernilai seni tinggi.

​Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi: Pada dinding candi menempel dua arca wanita yang diyakini sebagai perwujudan istri-istri Raja Airlangga. Dewi Sri melambangkan kemakmuran, sementara Dewi Laksmi melambangkan kesuburan.

​Asal Mula Nama Sumber Tetek: Nama lokal yang unik ini diberikan oleh masyarakat karena adanya sumber mata air jernih yang memancar keluar langsung dari bagian dada (payudara, atau tetek dalam bahasa Jawa) arca Dewi Laksmi. Air tersebut jatuh secara alami mengisi kolam dangkal di bawahnya. Sementara itu, arca Dewi Sri di sebelahnya tidak mengeluarkan air.

​Jejak Arca Dewa Wisnu: Dahulu, di relung utama antara kedua dewi tersebut, berdiri tegak sebuah patung Dewa Wisnu yang sedang menunggangi burung Garuda. Arca ini merupakan perwujudan Raja Airlangga sendiri, yang semasa hidupnya menganut dan memuja Dewa Wisnu. Saat ini, untuk alasan keamanan dan pelestarian, arca utama Wisnu penunggang Garuda tersebut telah dipindahkan dan disimpan dengan aman di Museum Purbakala Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

​💧 Mitos dan Kepercayaan Spiritual

​Mata air di Candi Belahan dikenal tidak pernah kering meskipun dilanda musim kemarau panjang. Konon, sumber mata air ini berasal dari aliran bawah tanah di sekitar akar pohon besar di area candi, dan sarat akan mitos kepercayaan masyarakat:

​Khasiat Air Amerta: Masyarakat sekitar dan pengunjung meyakini bahwa air yang memancar dari Candi Belahan adalah air amerta (air kehidupan). Airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, memberikan kekuatan, serta berkhasiat membuat wajah tampak awet muda.

​Ritual Mandi Suci: Suasana di area candi ini sering kali menjadi ramai pada malam-malam tertentu yang dianggap sakral dalam penanggalan Jawa, seperti malam Jumat Legi atau saat bulan purnama. Banyak peziarah yang datang ke sana untuk melakukan ritual mandi malam.

​Pantangan Kuat: Juru pelihara situs menetapkan aturan ketat bahwa wanita yang sedang haid (datang bulan) dilarang keras untuk masuk atau mandi di kolam petirtaan. Pantangan ini dijaga dengan ketat sebagai bentuk penghormatan untuk mempertahankan kesucian tempat peninggalan leluhur tersebut.

Komentar